|
LONDON - Spesies misterius yang diduga merupakan nenek moyang manusia telah ditemukan di sebuah gua di Siberia selatan.
Spesies yang kemudian diberi nama X-Woman itu diperkirakan hidup pada masa puluhan ribu tahun silam. Dilansir Daily Mail, Kamis (25/3/2010), temuan ini bisa merombak urutan nenek moyang manusia setelah melakukan analisa DNA dari tulang jari spesies tersebut yang telah difosilkan.
Para ahli percaya, jari tersebut milik seorang anak kecil yang mati sekira 30.000 hingga 48.000 tahun lalu. Diperkirakan, pada masa itu hanya ada dua spesies manusia purba, yaitu cikal bakal manusia modern dan Neanderthals. Namun bukti DNA yang dipublikasikan dalam jurnal Nature mengungkapkan ada tiga spesies pada masa itu.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
WASHINGTON - Kemungkinan Bumi dapat terdeteksi oleh makhluk alien perlahan mulai terkikis karena kian gencarnya revolusi digital dan perkembangan gadget.
Ahli luar angkasa Dr Frank Drake menyebutkan pancaran gelombang transmisi analog dari berbagai gadget seperti ponsel, televisi, radio dan radar telah membuat Bumi secara elektronik tak terlihat dari luar angkasa.
Para ilmuwan di Bumi terus memonitor kemunculan sinyal transmisi dari planet lain di luar angkasa. Diduga, para penghuni planet lain pun melakukan hal yang sama. Namun Drake yang mendirikan Search for Extra-terrestrial Intelligence (SETI) yang berbasis di AS 50 tahun lalu menyebutkan, pancaran transmisi analog dari beragam gadget membuat sinyal dari dan ke makhluk luar angkasa tak mungkin dilihat secara virtual.
|
|
Selanjutnya...
|
|
BERLIN - Studi terbaru menyebutkan, kecenderungan melakukan bunuh diri dipicu oleh kerusakan genetik yang mempengaruhi pertumbuhan sel syaraf.
Temuan ini merupakan kelanjutan dari studi sebelumnya yang memperlihatkan bahwa perilaku bunuh diri bisa berlangsung turun temurun dalam sebuah keluarga. Para ilmuwan menganalisa varian genetik yang ada pada 394 pasien yang didiagnosa mengalami depresi, termasuk 113 orang pasien yang tercatat pernah melakukan upaya bunuh diri.
DNA mereka kemudian dibandingkan dengan 366 partisipan sehat dari populasi umum yang berbeda. Hasilnya, ditemukan lima perubahan pada kode genetik pasien dengan riwayat pernah melakukan percobaan bunuh diri. Demikian keterangan yang dikutip dari Telegraph, Rabu (3/1/2010).
Varian genetik yang disebut Single Nucleotide Polymorphisms (SNPs), mempengaruhi dua gen yang berhubungan dengan pertumbuhan dan pembentukan sel saraf.
|
|
Selanjutnya...
|
|
WASHINGTON - Teleskop luar angkasa Hubble menangkap sebuah citra yang menampakkan tampilan semesta saat pertamakali terbentuk.
Para ahli memperkirakan citra tersebut merupakan gambaran semesta sekira 600 juta tahun setelah peristiwa ledakan besar yang dikenal dalam ilmu sains dengan istilah Big Bang. Kala itu, alam semesta boleh dibilang masih kanak-kanak.
Hasil pencitraan tersebut dirilis awal pekan ini pada pertemuan penting bidang astronomi American Astronomical Society. Para ilmuwan menilai, sejauh ini citra tersebut merupakan citra terlengkap yang menggambarkan semesta saat baru terbentuk.
Pada citra tersebut terlihat sebuah galaksi yang dipenuhi bintang berusia jutaan tahun, yang kemudian menjadi kelompok bintang pertama. Galaksi yang masih sangat muda ini belum memiliki bentuk khusus seperti spiral atau lonjong. Ukurannya pun masih lebih kecil dari ukuran sekarang dan warnanya biru.
|
|
Selanjutnya...
|
|
LONDON - Pandangan asal muasal manusia yang berbeda coba dilontarkan oleh salah seorang ilmuwan asal Cardiff University, Professor Chandra Wickramasinghe. Menurut dia manusia itu berasal dari kosmik yang terbentuk dari luar angkasa.
Kehidupan manusia, menurut Wickramasinghe, bermula dari luar Bumi yang sekarang ditempati. Kosmik dari serpihan komet yang membentuk mikroba di luar angkasa jatuh ke Bumi, setelah itu mikroba tersebut berevolusi dan berkembang menjadi sebuah manusia dan kehidupan.
"Manusia berasal dari mata rantai yang saling berhubungan dengan kosmos di luar angkasa. Bukti menunjukkan kalau manusia merupakan keturunan kosmik yang terpecah menjadi mikroba, lalu berkembang," sebut Wickramasinghe, seperti yang dilansir Telegraph, Sabtu (6/2/2010).
Studi yang dituliskan melalui Journal of Astrobiology menunjukkan, manusia dikirim ke Bumi selama miliaran tahun yang lalu, saat Bumi masih kosong.
|
|
Selanjutnya...
|
|
FLORIDA - Di tengah-tengah perdebatan yang menyebutkan radiasi ponsel memicu tumor otak, ada satu hasil studi terbaru yang berlawanan. Radiasi ponsel rupanya mampu meningkatkan kemampuan memori otak.
Setidaknya inilah hasil studi yang diuji coba pada 96 ekor tikus. Gelombang radiasi yang dipancarkan ponsel disebut-sebut bisa meningkatkan aktivitas otak, bahkan melawan penyakit alzheimer, yaitu kepikunan yang disebabkan menurunnya fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif karena otak kekurangan gizi.
"Temuan ini sungguh mengejutkan, paparan radiasi ponsel rupanya melindungi memori otak tikus yang memperlihatkan gejala alzheimer," kata ketua studi Gary Arendash dari Florida Alzheimer's Disease Research Center.
Seperti dilansir LiveScience, Kamis (7/1/2010), studi ini dengan sengaja memberikan paparan radiasi ponsel secara terus menerus pada tikus yang memiliki gejala alzheimer. Gelombang elektromagnetik dari ponsel yang didekatkan pada tikus terbukti ampuh menghilangkan kadar beta-amyloid, yaitu protein yang berkaitan erat sebagai pemicu penyakit alzheimer.
|
|
Selanjutnya...
|
|
LONDON - Mereka yang memiliki wajah baby face atau seperti anak-anak kini punya alasan lain untuk berbangga diri. Studi terbaru di Denmark menyebutkan, mereka yang berwajah imut-imut rata-rata memiliki umur yang panjang.
Hasil riset yang dipublikasikan secara online di British Medical Journal ini menyebutkan, wajah kekanak-kanakan merupakan salah satu indikator bahwa seseorang memiliki waktu hidup yang lebih lama.
Seperti dilansir Associated Press, Selasa (15/12/2009), pada 2001 ilmuwan Denmark mengadakan sebuah pengujian kognitif dan tes yang melibatkan sekira 1.800 pasangan kembar berusia diatas 70 tahun. Selain tes, peneliti juga mengambil foto wajah mereka. Kemudian ada pula tiga kelompok partisipan yang tidak tahu usia para partisipan kembar, diminta untuk menebak berapa usia mereka. Para peneliti lalu mengikuti perkembangan para partisipan kembar itu selama tujuh tahun, untuk mengetahui berapa lama mereka hidup.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
<< Start < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 8 |